Minggu, 31 Januari 2010

Blink for Hope - the story

Akhirnya konser yang gue prakarsai bersama dengan Renggo ini terjadi juga, dengan suksesnya. Walaupun gue tahu banyak kekurangan disana-sini, tapi suatu hal yang bisa menyumringahkan hati dengan melihat senyum-senyum dari para penonton yang datang, pengisi acara, dan satu hal lain yang paling penting, berhasil terkumpulnya donasi untuk Perhimpunan Rehab Jantung dari RSCM dengan jumlah yang sangat signifikan.

Blink for Hope yang diadakan di Black Studio, Panglima Polim, kediaman dari vokalis gue di ZATPP, seakan menjadi saksi bisu sebuah rentetan penampilan dari 11 band yang sangat berkualitas, dan yang pasti, berhati mulia dengan masih mau main dengan cuma-cuma, atas nama untuk menolong sesama, why not pastinya

Bisa sejuta alasan gue mengundang dan memilih band-band yang tampil semalam. Tapi gue emang sengaja berusaha membuat acara Blink for Hope ini menjadi lebih variatif, dari komunitas, genre musik dan juga 'tongkrongan'-nya. Gue sih berharap selain beramal, acara semalam bisa jadi melting pot buat berbagai jenis musik, berbagai jenis komunitas, sehingga bisa saling kenal, dan berkhayalnya lagi, musikalitas yang juga makin terbuka dan nggak terhimpit oleh sel-sel otak yang mungkin sudah jenuh dengan tayangan Dahsyat, Inbox, atau mungkin fest-fest yang mulai meng-eksploitasi kata 'indie', yang akhirnya mengakibatkan kata 'indie' dianggap sebagai spesies yang langka, sesuatu yang aneh, sesuatu yang 'out of the box', maupun 'edgy' (baca: e-ji).

Beberapa waktu yang lalu gue berbicara di sebuah kesempatan bersama dengan seorang pemilik sebuah label rekaman yang bergaya 'major' label. Dia pingin banget mendengar master album gue. Setelah gue perdengarkan, alangkah takjubnya mendengarkan komentarnya (padahal gue nggak minta). Kata beliau: "Lagu-lagu loe sebenarnya komersil, tapi kayanya elo gengsi ya sama KAUM indie, jadinya lagu yang bisa enak elo 'belokkin' lagi. Jadinya ngambang deh... Komersilnya menurun, indie-nya nggak juga..." Getir gue ngedengar komentarnya si bapak itu. Pertama, dia bilang 'KAUM' indie. Secara visual, indie menjadi seperti sekelompok orang tanpa busana, tanpa alas kaki, ikat kepala, berjalan-jalan membawa tombak di tengah kota. Bapak ini sudah menjadi produk atas kesesatan kata 'indie' yang dieksploitir tadi.

Tapi, ya sudahlah, gue disini nggak mau berdebat soal indie maupun enggak. Tujuan gue di Blink for Hope hanya untuk beramal, dengan memilih line-up yang gue suka, dan variatif banget. Gue cuma pengen nunjukkin, bahwa di bawah tanah, masih banyak permatanya.

Blink for Hope yang dijadwalkan mulai jam 4 sore, harus dimulai jam 5, karena penonton belum terlalu banyak yang mengerumuni panggung. Sampai akhirnya daripada acara molor terlalu lama, gue memutuskan untuk jadi MC mendadak dan memanggil beberapa band yang sudah hadir untuk merapat ke bibir panggung. Lampu pun gue gelapin sayup-sayup, sehingga penonton yang jumlahnya minim bisa tersamarkan dengan baik.
Awalnya, gue cerita sedikit background acara Blink for Hope ini dengan sedikit pidato a-la Pak Lurah yang sedang berbicra di peresmian sebuah Posyandu. Setelah itu gue persilahkan Firzi O untuk ngebuka Blink for Hope dihadapan penonton yang jumlahnya sangat irit tersebut.

1. Firzi O : Entahlah apa kepanjangan dari "O" yang ditaruh dibelakang nama asli cowok yang juga adalah mantan dari grup perkusi kugiran asal Universitas Paramadina, KunoKini ini. Yang pasti, bahkan dengan wajah gugupnya, dia berhasil menghipnotis penonton yang sebagian besar adalah pengisi acara juga; yang notabene seharusnya lebih sulit untuk dibius. But he did it anyway. Kemahirannya menepuk-nepuk Jembe ataupun Tabla sepertinya tertular kedalam permainan gitarnya yang terasa sekali unsur perkusifnya. Penampilan Firzi O sangat membuai perhatian, dengan alat-alat yang nggak umum digunakan. Drummernya menggunakan drumkit yang bentuknya sangat unik, gitarisnya (Echa) menggunakan gitar mahal bermerk Gretsch berbentuk kotak, Firzi-nya sendiri memelihara rambut gimbal, dan diujung kanan tampak seorang wanita cantik nan lucu sebagai backing vocal, yang nggak lain adalah Anggie, vokalis rilisan Alfa Records yang juga adalah pasangan dari Firzi. Secara look, band ini sudah benar adanya dan layak untuk berada diatas panggung. Tapi lebih berbahaya lagi ketika Firzi memulai lagu pertamanya. Bahkan gue yang udah lama berteman sama dia aja bengong langsung, sampai di tengah-tengah lagunya, tiba-tiba segerombolan penonton yang ternyata dari tadi nongkrong diluar pada berduyun-duyun masuk. Dalam hati, "Ahh.. akhirnya, ada penonton!"
Gue menemukan dan mendengar nuansa Neil Halstead yang kencang dari note-per-notenya. Walaupun gue juga tahu Firzi mempunyai Tuhan yang sama dengan gue, yaitu Tom Waits. Hanya satu yang gue sayangkan dari teman gue ini. Dia masih terlalu gugup. Ini terlihat dengan selama dia membawakan 5 lagu karyanya, sepanjang itu juga dia berdiri dalam posisi menyamping, nggak menghadap penonton. Seperti yang udah gue tebak, disaat acara selesai gue berusaha mengkonfirmasi alasannya, jawabannya "Gue gugup banget, le". Sangat bisa dimengerti, karena semalam adalah penampilan profesionalnya yang ke-2 kali!! Tunggu beberapa bulan lagi, teman gue ini akan mencuri perhatian semua editor majalah musik Indonesia.

2. Notturno/3GP : Band setelah Firzi O adalah triplet Jazz yang sangat terpengaruh oleh Medeski, Martin & Wood, yang bergaya kontemporer dan eksperimental. Dimotori oleh Dharmo Soedirman, pianis yang juga adalah salah satu produser musik di album solo gue. Seorang yang mempunyai wawasan musik yang luas, dibungkus dengan keramahan ekstra yang ngebuat gue betah ngobrol tentang musik sama dia. Dari Frank Zappa sampai Britney Spears nyambung semua! Sama seperti Firzi O, ini juga kali pertama gue menonton penampilan dari Notturno. Awalnya, gue sempat khawatir kalau penonton bakal bubar ngelihat penampilan band ini; yang harus diakuin, jazz eksperimental belum bisa jadi komoditi live disini. Tapi gue salah, penonton ternyata menyambut meriah 3 repertoire yang dibawakan Notturno. Apalagi, mereka mengakhirinya dengan "Smells Like Teen Spirit" milik Nirvana yang diaransemen sedemikian rupa. Tapi yang mencuri perhatian gue adalah penampilan bassist/cellist mereka, Hendrawan, yang mencabik senar-senar gendut contrabass-nya dengan ekspresif dan sloppy..

3. Andre Harihandoyo & Sonic People : Nah, grup yang satu ini berasal dari daerah Kelapa Gading dan baru saja merilis albumnya yang berjudul "Good for the Soul". Buat elo-elo yang suka dengan John Mayer, kurang lebih Andre punya kantong suara satu keluarga dengan John. Gue kenal mereka karena gue kerja di Hard Rock FM Jakarta dan setiap hari Senin mereka live on-air di acara #musicmonday, dimana gue disitu berperan sebagai produsernya. Setelah beberapa sesi ngobrol-ngobrol dengan Andre, gue tahu unsur blues mengalir deras dalam darahnya. Mereka juga banyak mencuri perhatian penonton yang semakin menyemut, apalagi Andreas, salah satu personil Sonic People memainkan Klarinet dan Akordeon. Dua alat musik yang mungkin jarang ditemukan pada acara-acara bawah tanah pada umumnya. Komunikasi yang baik dengan penonton juga jadi nilai plus buat band yang performance-nya sangat bersih dan rapih ini. Mereka pun membawakan sebuah lagu dari idola mereka, siapa lagi kalau bukan dari John Mayer, dari album terakhirnya "Battle Studies", Heartbreak Warfare...

4. Imela Kei : Siapa sih yang nggak kenal dengan grup Ten II Five? Weitss.. tapi bukan mereka yang gue undang. Vokalis band ini, Imela Kei sedang merintis karir untuk bersolo. Suaranya yang jernih, penampilannya yang seksi, jadi satu kombinasi yang pas untuk berada diatas stage malam itu. Gue sempat berpesan ke Renggo, manajer gue (manajer Imel juga), supaya Imel membawakan lagu sendiri. Tapi apa daya, meluncurlah lagu-lagu dari Sheryl Crow, dan Ten II Five dari mulutnya yang malam itu musiknya diiringi oleh sang suami, Marko; yang nggak lain adalah pentolan dari grup yang lagi banyak diomongin, Mike's Apartment. Walaupun Imela Kei ngebawain lagu orang, tetap nggak ngurangin jumlah mata yang melongo, dan liur yang menetes dari pria-pria single malam itu haha...

5. The Adams : Kalau yang ini gue seneng banget nontonnya.. Mereka sangat menghibur dengan aransemen dan dengan lagu-lagu yang memang udah dikenal banyak orang. Ada yang unik pada penampilan The Adams semalam. Vokalis orijinal, Aryo yang berhalangan hadir, digantikan oleh Hasief Ardiansyah, editor majalah Rolling Stone, yang juga adalah manajer dari The Adams. Banyak penonton yang tampaknya kenal atau 'follow' Hasief di Twitter tertawa terbahak-bahak melihat pria eksentrik ini menyanyikan lagu demi lagu dengan wajah tanpa ekspresi.. Oya, suara Hasief juga 'nyentrik' kok :) Banyak sekali gue lihat diantara penonton yang wajahnya sumringah dan senang sepeninggal mereka turun dari panggung. One of the peak performance di Blink for Hope tadi malam!

6. Hightime Rebellion : Beberapa hari yang lalu, gue sempet ngetwit kalau ada 1 band yang gue underline untuk ditonton di Blink for Hope, yaitu Hightime Rebellion ini. Gue pertama kali nonton mereka ketika band proyekan sampingan gue, Mantra, manggung di sebuah tempat di Kemang untuk acara peluncuran sebuah majalah. Ngelihat muka-muka mereka yang muda dan segar-segar (sayur kali...), didukung dengan musik yang enerjik, ngebuat gue jatuh hati sama musik mereka. Even musik mereka sangat kekinian, tapi mereka justru memperkaya variasi musik di Blink for Hope. Entah kenapa, musik mereka mengingatkan gue dengan Phoenix, kocokan funk-rock di gitar elektrik, dengan beat drum a-la Franz Ferdinand dan grup-grup dance-rock lainnya. Apalagi sebagai mikrofon, dipilihlah vokalis bernama Miyane Soemitro, yang setelah gue cek di #blinkforhope lewat Twitter, banyak cowok-cowok yang jatuh hati, either with her look, or her voice. Bahkan Andre Harihandoyo bilang ke gue "Le, ini siapa ya? kok suaranya gue familiar banget ya? Gue nggak pernah lupa nih suara dia?" Setelah gue jawab, Andre menyahut "Oiya... Gue pernah nonton dia di Loca" Nggak hanya tampang, suaranyapun diingat orang. Sebuah band bagus, yang gue yakin juga punya masa depan bagus.

7. dzeek : Band ini sedikit menyalahi aturan di Blink for Hope hehe.. Manajernya bilang kalau sebenernya udah dibilangin untuk main akustik, tapi mereka tetap ngeyel mainnya elektrik, dan dengan volume yang pastinya tidak pelan haha... Tapi secara keseluruhan mereka main seperti biasa, bagus! apalagi suara Imam Ghazali yang diatas rata-rata vokalis kebanyakan. Gue banyak di outdoor area karena was-was akan ada 'pemberhentian' event dari pihak pemilik rumah karena terlalu berisik. Jadi gue berjaga-jaga sepanjang performance mereka haha... Tapi alhamdulilah nothing happened. Everything was under control :)

8. Adrian Adioetomo : Yang ini adalah teman lama gue. Bahkan gue dan dia pernah ngamen di sebuah restoran fastfood ngebawain lagu-lagu dari Alice in Chains, dan mahaguru-mahaguru grunge dimasanya.. Dari awal gue kenal dia di pertengahan tahun 90-an, gue tahu Adrian Adioetomo akan jadi nama yang besar di genre musik blues yang dipilihnya; bluesnya pun bukan sembarang blues, dipilihnyalah Delta Blues, sebuah genre yang minim peminat di negeri ini. Tapi seorang Adrian nggak setengah-setengah... Gue yakin Adrian sebenarnya tinggal di negara yang salah. Dia seharusnya tinggal di Amerika, dimana akan banyak orang yang bisa menerima musiknya. Permainan slide-nya yang super cepat bisa membuat orang terdiam, bahkan semalam, penonton pada nurut ketika dia minta mereka untuk berdiri, menghentakkan kakinya ke lantai kayu Black Studio untuk menambah gain dari stomper yang dibuat dari papan cucian yang diberi pickup yang didentumkan dengan sepatu ber-sol kerasnya. Sempat gue terharu ketika dia berkata di panggung "Gue bawain lagu ini buat oom Anwar, ayahnya Leo.. Keluarganya Leo udah kaya keluarga gue sendiri" Adrian Adioetomo sendirian di panggung, memakai gitar vintage, ditemani sebuah papan kayu, bisa meminta ratusan orang untuk berdiri sepanjang penampilannya semalam. Luar biasa! Thanks bul...

9. Anda and the Joints : Album gue diproduseri 2 orang, yang pertama Dharmo Soedirman dari grup Notturno. Yang kedua adalah Hendra Perdana a.k.a. Anda, mantan gitaris Bunga, yang baru merilis album solonya juga dibawah label Demajors, yang diberi judul "In Medio". Anda tampil berempat bersama Mian Meuthia (back vox), Hendra (gitar 2), dan Jepe (piano), menyihir penonton dengan lagu pertamanya yang jadi materi sing-a-long, yaitu "Biru". Yang terlihat banyak wajah-wajah terpana sambil berusaha mengikuti liriknya walaupun terbata-bata. Lagu kedua disambung dengan lagu "Pusaran" yang diaransemen jauh berbeda dengan yang kita semua dengar di album. Terlihat ekspresi Anda menyanyikan lagu-lagunya, yang juga ngeyakinin kita bahwa dia menyanyikannya dengan tulus langsung lewat hati, kencang deras mengalir lewat kerongkongannya. Penampilan Anda sangat wajar kalau diakhir penampilannya, riuh sekali sambutan penontonnya

10. Leonardo : Agak musyrik kayanya kalau gue mereview diri sendiri, jadi gue mempersilahkan elo yang baca blog gue ini untuk mengisi titik-titik dibawah ini : ...................................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................................

11. Tika & the Dissidents : Gue dan Tika menggunakan jasa pemain bass yang sama, Susan Agiwitanto. Berbarengan dengan acara Blink for Hope ini, istri Susan melahirkan anak pertama mereka yang diberi nama Sabitha Samarra. Jadi gue dan Tika berbagi kebahagiaan bersama di panggung. Senang rasanya manggung dengan pemain bass yang sepanjang acara selalu tersenyum... Tika seperti biasa selalu sukses membuat penonton dimanapun; termasuk semalam, terkagum-kagum dengan penampilannya. Dengan trio backing vocals, Mian Meuthia, Mian Thiara, dan Muti ngebuat seakan keseksian musik The Dissidents semakin pol ditambah genitnya suara-suara mereka bertiga. Penampilan Tika inipun sempat mengagetkan penonton (terutama gue sih), ketika Iman memainkan intro dari salah satu lagu ZATPP. Tika mengawali performance-nya dengan lagu "Pol Pot" yang selalu dijadikan pembuka oleh Tika dalam tiap penampilannya (seenggaknya dari gigs-gigsnya Tika yang gue tonton sih). Dengan ngebawa microphone sendiri, Tika berlenggak-lenggok di panggung, ngebuat seluruh wanita yang ada di Black Studio ingin menjadi seorang Kartika Jahja. Pilihan Tika & The Dissidents sebagai headline menurut gue adalah pilihan yang sangat tepat, karena kelihatan semua penonton menantikan penampilannya, nggak ada penonton yang pulang, semuanya masih duduk manis di tempatnya

Above all, acara ini bisa dianggap sukses. Dalam jumlah penonton, dari dana yang terkumpul, dan dari pengisi acara yang pribadi gue anggap ciamik semuanya. Terimakasih buat elo semua yang terlibat dalam acara ini, baik panitia, yang datang, maupun band-band yang main rela tanpa dibayar. Jumlah uang yang terkumpul adalah Rp. 2.920.200. Uang ini akan segera disampaikan ke Perhimpunan Rehab Jantung Unit RSCM.

Terimakasih semuanya

See you in the next event :)

Kamis, 28 Januari 2010

The new Mike Bordin's Signature Series Snare Drum


Wow...

Kemarin ke Pacific Place ke toko musik liat ada benda ini. Yamaha Custom Mike Bordin's Signature Series Snare!! Mike Bordin itu drummer favorit gue mulai dari jamannya dia main di Faith No More sampai sekarang dia main sama Ozzy Osborne.
Iseng-iseng nanya harga, dibuka dari harga 6 jutaan. *gasp*

Tapi suatu hari nanti harus gue beli nih barang

Provocative Proactive 28 Januari 2010


Wah.. malam ini kayanya bakal seru banget. Di acara Provocative Proactive nanti akan nginterview Bambang Pamungkas, striker tim nasional Indonesia. Gue pribadi sebenernya nggak terlalu hip sama timnas kita, ya so-so-lahh... Malah cenderung ke sebel sih.. Gimana nggak, kalah muluuuu! Ya udah, dengerin aja yah nanti, apa sih jawaban-jawabannya Bambang Pamungkas :p

Bagus banget vespa ini.. Kira-kira kapan ya Vespa ini bisa gue dapetin.. It's simply just perfect

Rabu, 27 Januari 2010

Blog Pertama

Dulu saya pernah punya Wordpress, tapi saya cuekkin. Pernah juga coba bikin Multiply, lagi-lagi saya cuekkin. Semoga aja yang ini bisa bertahan ya...

Enjoy your stay here